JAKARTA -
Band alt-rock asal kota St Louis, MO. Amerika Serikat, Story of the Year (SOTY),
baru saja menggelar konser pertamanya bertajuk "The Black Swan" yang diusung
dari judul album terakhirnya.
Dipromotori oleh Venire Music bekerja sama
dengan Variant Records Jakarta, konser yang diadakan di Istora Senayan ini
menyuguhkan performa panggung yang sangat atraktif dan agresif.
Band indie-rock pendatang baru dari Canada,
Your Favorite Enemies, membuka konser perdana SOTY di Indonesia dengan
membawakan beberapa lagu dari mini albumnya yang baru dirilis independen
beberapa waktu lalu, termasuk beberapa single seperti Sunset Blow, I Might
Be Wrong, dan hits pada mini album mereka Open Your Eyes.
Band yang digawangi enam orang, Alex Foster (vokal),
Jeff Beaulieu (gitar), Sef (gitar), Ben Lemelin (bass), Miss Isabel (vokal
dan piano), dan Charles Moose Allicy (drums), berhasil menghibur pengunjung
selama sejam hingga sekira pukul 21.00 WIB.
Menariknya, Isabel tidak bosan-bosan
memamerkan keahliannya berbahasa Indonesia membakar semangat penonton, "Kami
Your Favorite Enemies, kami cinta Jakarta! Ayo, lompat!". Dan, pada akhir
penampilannya, ia juga tidak lupa mengatakan, "terima kasih, Jakarta. Kami
cinta Jakarta. We welcome for Story of the Year!"
Stage yang atraktif itu pun hening sejenak
menunggu persiapan band berawak Dan Marsala (vokal), Ryan Phillips (gitar),
Philip Sneed (gitar), Adam Russell (bass), dan Josh Wills (drums), yang
memakan waktu kurang lebih setengah jam.
Baru kemudian sekira pukul 21.30 WIB, sang
vokalis Dan berlari ke tengah panggung sambil menyapa penonton, "What's up
Jakarta! We are Story of the Year!" diiringi intro lagu And The Hero Will
Drown yang disambut teriakan histeris penggemarnya. Medley lagu tersebut ke
lagu Falling Down membuat semua penonton terus berjingkrakan menikmati
komposisi sounds dan pencahayaan yang maksimal ketika itu.
"Let's go get f**ing good time!" teriak Dan
yang tak henti-henti mengajak penonton di festival terus bergoyang. Antidote
dan Wake Up yang masih terasa kental akan emo-rock pun menyambut teriakan
Dan tersebut. Sahut-sahutan antara Dan dan penonton pun membuat suasana
menjadi lebih akrab.
"It's cool!" ujar Dan yang terlihat sangat
apresiasif pada penonton yang meramaikan konser perdananya di Jakarta.
Coba menyuguhkan sesuatu yang lebih berat,
Our Time is Now yang bernuansa emo-punk metal pun dibawakan. Aksi panggung
pun semakin panas ketika Philip Sneed dan Dan Marsala berdiri di pembatas
antara penonton festival dan panggung. Sementara Ryan sibuk mengisi nada
string diiringi irama metal pukulan drum Josh Wills.
Situasi panas tersebut pun dimanfaatkan SOTY
dengan medley ke lagu selanjutnya bertajuk Meatheat, lagu bernuansa
punk-metal yang diangkat dari album kedua mereka, In the Wake of
Determination. Sangat mengejutkan, di tengah-tengah lagu mereka bertukar
posisi, di mana Josh tiba-tiba membetot bass, Dan menambuh drum, dan Adam
menjadi vokal. Hiburan tersebut seketika mengundang tepuk tangan seisi
Istora.
Selanjutnya, Dan kembali berinteraksi dengan
penonton, "hay Jakarta, lets sing with us, it's Anthem of Our Dying Day!"
Hal ini menimbulkan histeria penonton yang langsung menemani Dan dengan
bernyanyi bersama. Setelah itu, SOTY pun menggeber Take Me Back, Stereo, dan
Tell Me yang diambil dari album baru, The Black Swan, secara medley.
Performa panggung yang "panas" kerap kali
membuat semangat penonton menggebu-gebu. Namun, pada hits berjudul
Sidewalks, Dan mengajak penonton untuk rehat sejenak sambil bernyanyi
bersama lagi. "We're gonna play a slow song now. Sidewalks," tuturnya.
Kemudian, penonton pun seakan dihipnotis mengikuti irama Sidewalks dan
bernyanyi bersama Dan sepanjang lagu.
Tanpa berkata-kata, band pun langsung
melanjutkannya dengan Choose Your Fate, single yang diambil dari album
terbaru. Setelah itu, Dan berteriak, "what song you want us to play?!"
Gemuruh penonton pun diselak band yang sudah merilis tiga album tersebut
dengan hits In The Shadows.
Pada bagian ini, panggung seakan kembali
terbakar karena SOTY menyuguhkan ciri khas aksi panggungnya, di mana pada
tengah lagu kedua gitaris, Ryan dan Philip, melempar gitarnya ke pinggir
stage lalu naik ke atas stage drum milik Josh dan salto terbalik bersamaan.
Merasa belum cukup, aksi "sirkus"-nya itu pun disusul dengan lompatan tinggi
Dan dan Adam pada bagian interlude lagu. Sontak aksi ini mengundang riuh
penonton dan membuat beberapa penonton di tribune memberikan
standing-applause kepada mereka.
Kemudian, Dan yang komunikatif kembali
menyapa, "alright, Jakarta. Everybody, put your hands up on the air!"
Penonton pun tersihir mengikuti komando Dan dan bertepuk tangan mengikuti
tabuhan drum Josh dan picking gitar Ryan berirama emo-metal. Welcome to New
Our Way pun disuguhkan selanjutnya.
Akhirnya, sampai pada lagu yang amat
ditunggu-tunggu oleh penonton sekaligus penggemarnya yang hadir di Istora
Senayan malam itu, Until the Day I Die. Teriakan penonton yang menyambut
lagu ini pun menggema seketika, tak henti mengiringi Dan melantunkan hits
paling favorit tersebut. Head-banging dan jingkrakan penonton di moshpit
seakan pemandangan biasa yang menandakan klimaks suatu euphoria para
penggemar saat itu.
"Alright, Jakarta. Thank you. We are Story of
The Year. This will gonna be the last song," ucap Dan sebelum menutup
konsernya di Jakarta. Tak lama kemudian, intro drum Fate pun kembali
mengajak penonton berjingkrakan untuk terakhir kalinya. Di bagian akhir lagu,
Dan berteriak panjang berkali-kali menutup konser perdananya di Indonesia
dengan klimaks.
"Thank you, Jakarta. We are Story of The
Year, good night," ujar Dan menutup konser sambil berjalan meninggalkan
panggung. Josh pun menyusul setelah menghempaskan kedua stick drum-nya ke
arah penonton festival. (jri)
